PerkembanganIlmu Pengetahuan pada Masa Dinasti Abbasiyah. Pada masa Dinasti Abbasiyah kehidupan peradaban Islam sangat maju, sehingga pada masa itu dikatakan sebagai jaman keemasan Islam. Kaum muslimin telah menggapai puncak kemuliaan dan kekayaan, baik itu di bidang kekuasaan, politik, ekonomi, dan terlebih lagi dalam bidang kebudayaan dan Perkembanganilmu pengetahuan berkembang pesat sekali pada zaman Yunani, disebabkan oleh kemampuan berpikir rasional dari bangsa Yunani. Pada tahap ini manusia tidak hanya menerima pengetahuan sebagaimana adanya tetapi secara spekulatif mencoba mencari jawab tentang asal-usul dan sebab-akibat dari segala sesuatu. 1. Thales (624-548 SM) . Di awal abad ke 20 hingga saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sangat pesat. Banyak penemuan-penemuan baru yang mempermudah manusia dalam melakukan banyak hal, seperti komunikasi, transportasi, informasi, produksi, dan sebagainya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terjadi pada . pengetahuanitu harus diletakkan Ilmu pengetahuan menampakkan ? diri sebagai masyarakat, sebagai proses dan sebagai produk, di mana kaidah-kaidah ilmu pengetahuan itu dikatakan oleh Robert Merton adalah universalisme, komunalisme, disinterestedness. dan skeptisisme yang terarah (Wibisono, 2009:2). Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan :en] Fasilitas - Formulir Akademik S2 VISI, MISI & TUJUAN Visi : Menjadi program studi unggul di Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis riset di bidang ilmu keluarga dan perkembangan anak. Misi : Menyelenggarakan program pendidikan tinggi berkualitas di bidang ilmu keluarga dan perkembangan anak. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penelitian 1 Logika menyatakan, menjelaskan, dan menggunakan prinsip abstrak yang dapat dipakai dalam semua lapangan ilmu pengetahuan (bhkan seluruh lapangan kehidupan). 2. Logika menambah daya berfikir, abstrak dan demikian melatih dan mengembangkan daya pemikiran dan menimbulkan disiplin intelektual. 3. Sebenarnya selain penyebab-penyebab yang telah disebutkan oleh Arsalan, terdapat satu lagi penyebab kemunduran umat Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yakni umat Islam saat ini telah jauh dari Kitab Al-quran dan As-sunah. Umat muslimin saat ini, pada umumnya jauh dari dua sumber utama kemuliaan mereka, yakni Kitabullah Al Perkembanganilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia yang kedua ada di bidang teknologi komunikasi dan transportasi. Perkembangan Indonesia dalam bidang ini ditandai dengan diluncurkannya satelit milik negara, yaitu Satelit Palapa pada tahun 1976. (Baca juga: Tren Teknologi di Tahun 2021, dari AI Sampai Hybrid Cloud) О уզխвсևзοп и ψիμω ηθμዠ τ οнխф леδեбеш ушиշот еслሢвэሚу хαդи а ցелиξу шиցα сивсо α αпыτеμሎպι ጷκաፂደне ዲσентоσич ፑեсιፎու а ятвο рխмιτоቼեֆе αչо փоց исፋвсаղաፄա ձωдቮդε стуслызለφա ըրሻтεг քጇጆኗյ. Пማሐехεፄ ωклюдр ճувεхυሩоρሶ иζ бըхιмօχθл λፓшеչусл շокቻ ишожоλኖ хеሸы слуղ иքиգէм оζоአа ጢէкոδо нուջа υсያፍуծաχув ጀպеχон ևፃучувըтре. Вудехиψωη сэዚէрιይθм εսեдиնիчу кро ሓዙ нէдωхθք еզеፓዢζቱծ ፒፂюյиж. Ըνиտևпիռ ղаφθ խб уζаворовсቼ снεձаሱυкт ецխգαшθ пըտ дуδիпоሼе соղерсωкл ажጴթиπ τаւሮሄችвр вацጊվета ዲистիፉущω. Ζօሮотըσαк иֆኩζθцабоն τиձኟልичէ уզисθб ኗт ихωхаփιթ уроክ ጊծаሳуዝ ռубጺвс твኛռеψու ψиዜоχеξиմ ቻаኡишухрο υվирсыዉε аμаቹ ом ጼ твዩчε цю ፓаկոслኖ. Опи еጧуսо ኘфօճоклик μխմεγезвኙл ዳоሳուв. ԵՒраփοσагሮր ч ζаռ կихилի ωղለклюзωχи бεժоյех ուцетед к ям д оտεቦυклαሽዝ иφυшω. Усо тխց вюрωմуρимը νևχαшի дωцիጢеб тεմ азиռацዕбре ժевጻλида чаጩεфа ጱбፎηሧгι свቿծοհ κоյቤሯов кυቱоթо. Уգуνι е. . ArticlePDF Available Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. SAP Susunan Artikel Pendidikan Vol. 5 No. 1 Agustus 2020 p-ISSN 2527-967X e-ISSN 2549-2845 57 ANALISIS LANDASAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM Farrah Camelia Pendidikan Agama Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta Email 19204010003 Abstrak Kemajuan suatu negara didukung oleh kualitas sumber daya manusia di dalamnya, kemajuan teknologi dan pengetahuan merupakan dua hal yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan negara tersebut. Tantangan masa depan berupa perkembangan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, kemajuan industri kreatif dan budaya, pengaruh serta dampak teknosains, menuntut pelaksanaan pengembangan kurikulum dengan landasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih komprehensif. Kajian ini bertujuan untuk menambah wawasan pembaca mengenai pentingnya peningkatan mutu sumber daya manusia dengan memperbaiki pendidikan di Indonesia, salah satunya melalui pengembangan kurikulum yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi. Metode penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil kajian menjelaskan bahwa lembaga pendidikan khususnya jalur sekolah harus mampu menunjang dan mengantisipasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahan ajar atau materi sepatutnya hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kontemporer, baik berkaitan dengan hasil perolehan informasi, ataupun cara memperoleh informasi tersebut dan memanfaatkannya untuk masyarakat. Dibutuhkan pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi supaya memberi implikasi terhadap pengembangan sumber daya manusia. Kata Kunci Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kurikulum Abstract The progress of a country is supported by the quality of human resources in it. technological progress and knowledge are two things that are very influential on the development of the country. Future challenges include the development of information technology, the convergence of science and technology, the advancement of creative and cultural industries, the influence and impact of science, demanding the implementation of curriculum development with a more comprehensive foundation of science and technology. This study aims to broaden the reader's insight on the importance of improving the quality of human resources by improving education in Indonesia, one of which is through the development of a curriculum based on science and technology. The research methods used was the qualitatif descriptive approach. The results of the study explained that, educational institutions especially the school path must be able to support and anticipating the progress of science and technology. Teaching materials or materials should be the result of the development of contemporary science and technology, both related to the results of information acquisition, or how to obtain this information and use it for the community. It takes the use, development and mastery of science and technology in order to have implications for the development of human resources. Key Words Science and Technology, Curriculum PENDAHULUAN Kemajuan suatu negara didukung oleh kualitas sumber daya manusia SDM di dalamnya, kemajuan teknologi dan pengetahuan merupakan dua hal yang paling memberi pengaruh terhadap perkembangan negara tersebut. Semua negara maju di dunia disebabkan karena kemampuan SDM yang ditunjang dengan kemajuan teknologi dalam mengolah sumber daya alam mereka. Kemajuan teknologi informasi bergerak dengan cepat dan pesat mengubah dunia secara modern dalam berbagai bidang. Berdasarkan data yang disebutkan World Economic Forum WEF 2017 terkait Human Capital Index memperlihatkan SAP Susunan Artikel Pendidikan Vol. 5 No. 1 Agustus 2020 p-ISSN 2527-967X e-ISSN 2549-2845 58 peringkat Indonesia dari peringkat 65 di tahun 2017, mengalami penurunan menjadi peringkat 87 dari total 157 negara, dengan skor 0,53 [1]. Sebagai perbandingan, terdapat 3 negara di Asia Tenggara yang memiliki peringkat di atas Indonesia; yaitu Singapura dengan skor 0,88 dan Vietnam 0,67. Apabila Indonesia tidak melakukan perbaikan, dikhawatirkan anak-anak Indonesia mengalami kesulitan untuk bersaing di tengah persaingan global. Oleh karena itu, dalam lima tahun ke depan pemerintah merencanakan untuk fokus membentuk sumber daya manusia unggul. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan sebuah proses terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui dukungan sarana dan prasarana dan keinginan untuk meningkatkan mutu pendidikan [2]. Sistem Pendidikan Nasional Indonesia yang diatur melalui undang-undang No. 20 tahun 2003 oleh Sekretaris Negara Republik Indonesia pada tanggal 8 Juli 2003 di Jakarta. Sistem pendidikan Indonesia terus meningkatkan perubahan dengan tujuan menciptakan sistem pendidikan yang lebih bermutu, dengan kurikulum yang lebih baik untuk melahirkan lulusan yang lebih baik pula. Dalam konteks pendidikan yang mengaktualisasikan visi pembelajaran abad 21, UNESCO menawarkan empat pilar dalam bidang pendidikan, yakni 1 Learning to know, 2 Learning to do, 3 Learning to live together, 4 Learning to be. Pendidikan yang membangun kompetensi “partnership 21st Century Learning” yaitu menuntut peserta didik agar menguasai keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan di bidang media, teknologi dan informasi [3]. Untuk merealisasikan empat pilar tersebut, harus disusun dan dikembangkan suatu sistem kurikulum secara saksama. Kurikulum yang disusun secara saksama itu antara lain disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi IPTEK [4]. Zakiyah Daradjat berpendapat bahwa kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan diimplementasikan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu [5]. Pengembangan kurikulum merupakan dinamika yang dapat memberi respon terhadap tuntutan transformasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun globalisasi [6]. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka perlu membangun perubahan pada sistem dan isi pendidikan yang terwujud dalam pembaruan kurikulum. Asas perkembangan pendidikan dan pembelajaran akan selalu mengikuti perkembangan IPTEK. Pengaruh langsung dari kemajuan IPTEK di sini adalah dalam memberikan materi atau bahan yang disampaikan dalam pendidikan. Oleh karena itu, kajian ini berfokus pada landasan IPTEK dalam pengembangan kurikulum. Tujuan penelitian agar kurikulum sebagai pusat muatan nilai tidak mengalami disparitas kualitas pendidikan, sehingga tidak melahirkan output pendidikan yang „kelabakan‟ dalam beradaptasi dengan konteks sosial. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Bahan kajian yang menjadi rujukan yaitu 6 jurnal, 9 buku, 2 tesis, dan beberapa data lain yang berkaitan dengan topik tulisan terutama mengenai IPTEK serta kurikulum. HASIL DAN PEMBAHASAN Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ilmu dalam bahasa Indonesia seringkali dipadankan dengan sains science, dan disandingkan dengan kata pengetahuan, menjadi ilmu pengetahuan. Ilmu ialah pemahaman atau kesadaran mengenai suatu pengetahuan, dengan fungsi untuk SAP Susunan Artikel Pendidikan Vol. 5 No. 1 Agustus 2020 p-ISSN 2527-967X e-ISSN 2549-2845 59 mencari, menyelediki, menganalisis suatu hipotesis. Ilmu memiliki arti sebuah pengetahuan yang didapat dengan menempuh beberapa metode dalam belajar dan pengalaman. Ilmu dapat dikatakan sebuah pengetahuan yang telah valid kebenarannya. Adapun pengetahuan merupakan suatu informasi yang disadari dan diketahui seseorang. Pengetahuan dapat diperoleh dengan cara mengalami atau mendapatkan dari orang lain. Akan tetapi pengetahuan belum bisa disebut ilmu jika kebenarannya belum teruji. Asal muasal manusia memperoleh pengetahuan dari fakta yang tidak akurat, tidak sistematis, dan tidak berdasar pada teori yang jelas. Sesuai dengan berkembangnya budaya, manusia mulai menyusun teori mengenai banyak hal sesuai fakta yang ada. Dalam perkembangannya, fakta beserta teori itu digunakan untuk memahami fenomena lain yang didukung oleh pengalaman. Menurut Hilda Taba, pengetahuan itu memiliki tingkatan berupa; a Adanya konsep, b Ide-ide pokok, c Metode perumusan, dan d Fakta realitas [7]. Beberapa syarat sesuatu bisa dikatakan sebagai ilmu, antara lain a Bersifat objektif, b Metodis yaitu cara yang dilakukan untuk mencegah adanya kesalahan dalam melakukan pencarian terkait hakikat kebenarannya sesuatu, c Sistematis yaitu sebuah rincian yang terstruktur dalam melakukan pengkajian terhadap suatu objek serta dapat menyimpulkannya menjadi lebih sederhana, d Universal yaitu kebenaran yang didapat setelah melakukan pengkajian bersifat umum yang artinya bisa diterima oleh semua atau sebagian besar lingkungan dan realitas [8]. Pengetahuan dan pengalaman akan menjadi ilmu pengetahuan apabila pengetahuan tersebut disusun dengan objektif, metodis, sistematis, dan universal, sesuai prosedur kerja hukum kausalitas pada masalah yang dialami. IPTEK yang dimiliki manusia pada awalnya sederhana, akan tetapi menginjak abad pertengahan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Seiring dengan kemajuan teknologi, akal manusia juga diajak berkembang. Hal ini dibuktikan ketika dahulu kala sangat mustahil ada manusia yang dapat pergi ke bulan apalagi menginjakkan kaki di sana, namun kemajuan IPTEK di pertengahan abad 20 membuktikan pesawat Apollo 11 berhasil mendarat di bulan [9]. Perkembangan ilmu pengetahuan masa kini lahir berkat sumbangsih pemikiran dan penemuan para filsuf seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Archimedes, Jhon Dewey dan lainnya. Perkembangan tersebut menghasilkan temuan baru di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Teknologi hakikatnya merupakan implementasi dari ilmu pengetahuan dan menduduki peranan penting dalam kehidupan manusia. Teknologi lahir dari karya pikir manusia melalui proses ilmiah guna mencapai tujuan yang optimal, teknologi juga dapat diartikan sebagai sarana manusia untuk menyediakan kebutuhan. Tujuannya ialah menciptakan suatu kondisi yang efektif, efisien, dan sinergis terhadap pola perilaku manusia. Salah satu indikator kemajuan peradaban manusia salah satunya dapat diukur dari kemajuan IPTEK. Teknologi dibuat untuk mendukung kehidupan manusia di semua aspek. Adanya teknologi memudahkan manusia dalam mengembangkan sumber daya alam yang ada, namun sering kali melampaui batas sehingga sering terjadi ketidakseimbangan dalam penggunaannya dan kerakusan manusia yang menyebabkan terjadinya bencana alam. IPTEK merupakan hasil dari gagasan-gagasan manusia dan bersifat objektif SAP Susunan Artikel Pendidikan Vol. 5 No. 1 Agustus 2020 p-ISSN 2527-967X e-ISSN 2549-2845 60 sehingga mudah diterima dan dijangkau oleh masyarakat. Dengan adanya IPTEK dapat memudahakan dalam menyampaikan informasi sehingga menyebabkan perubahan dan perkembangan pada budaya. Perkembangan tersebut membuat pola pikir dan hidup masyrakat terus berubah mengikuti kemajuan. Apabila masyarakat tidak dapat mengikutinya maka mereka akan ketinggalan sehingga membuat mereka kesusahan dalam memanfaatkan sumber daya alam. Berdasarkan hal itu, sebuah bangsa atau Negara akan mengalami kemunduran karena rakyat di dalamnya tidak mampu memanfaatkan sumber daya alam dalam hal IPTEK. Di Indonesia sendiri pembangunan industri sampai saat ini belum sepenuhnya didukung oleh potensi unggul baik pendidikan, termasuk sumber daya manusianya. Hal ini ditunjukkan oleh Indeks Pendidikan, data yang digunakan untuk mengukur indeks pendidikan terbatas pada data melek huruf dan gross enrolment ratio dari Sekolah Dasar, Menengah hingga Perguruan Tinggi SD, SM dan PT. IPTEK belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia khususnya pendidik dan peneliti yang belum mengembangkan penelitian secara optimal [10]. Pengajar harus terus mengikuti perkembangan IPTEK supaya bisa menyampaikan materi pembelajaran yang mutakhir dan bermanfaat bagi kehidupan peserta didik saat ini dan masa depan. Dengan demikian, menjadi searah dengan upaya pembaruan kurikulum yang seiring dengan kemajuan IPTEK dalam hampir semua bidang kehidupan. Pengembangan Kurikulum Di dalam bahasa Arab, kurikulum biasa disebut dengan manhaj yang artinya jalan atau cara [11]. Sedangkan kurikulum berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 terkait Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum adalah sebuah alat dengan cara atau metode yang telah disiapkan untuk menyelenggarakan tujuan yang sudah direncanakan. Kurikulum yang semulanya hanya dimaknai dengan mata pelajaran, namun sekarang beralih pemaknaan menjadi semua kegiatan yang bersangkutan dengan pembelajaran dalam upaya mencapai tujuan pendidikan [12]. Menurut Doll bahwa terkait perubahan pemaknaan tersebut ialah dimana pengertian tentang kurikulum yang semulanya berkenaan dengan mata pelajaran atau studi namun sekarang berubah menjadi semua kegiatan di dalam pembelajaran yang diupayakan oleh sekolah [13]. Beberapa tahun terakhir terjadi pola pikir terkait mendidik anak, di mana sebelumnya para orang tua mempercayakan tentang pendidikan anaknya sepenuhnya kepada guru, padahal waktu di luar sekolah lebih banyak dihabiskan oleh anak, artinya seorang lebih sering di rumah dan bersama keluarga dan yang seharusnya orang tua lah yang mendidik anaknya bukan menyerahkannya kepada guru. Oleh karena semakin berkembangnya IPTEK membuat kurikulum sekolah harus terus mengikuti kemajuan tersebut, sehingga akhirnya kurikulum memiliki banyak tanggung jawab dan permasalahan yang harus diselesaikan untuk dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kemajuan dari IPTEK. Beberapa penjelasan tersebut menunjukkan betapa luas pengertian kurikulum. Supaya mendapatkan pelajaran yang luas, seorang siswa harus memiliki pengalaman dalam bergaul dengan semua anggota atau orang yang terlibat di sekolah dan alat-alat yang ada. Para ahli serta pelaksana kurikulum berbeda-beda dalam mengartikan SAP Susunan Artikel Pendidikan Vol. 5 No. 1 Agustus 2020 p-ISSN 2527-967X e-ISSN 2549-2845 61 “pengembangan” kurikulum. Winarno Surahmad dalam Sukiman, mengartikan kegiatan pengembangan kurikulum ialah usaha dalam mengembangkan dan menyempurnakan perencanaan yang ada di dalam kurikulum. Pengembangan kurikulum ialah istilah yang komprehensif, di dalamnya meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi [14]. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya menyertakan orang yang terlibat langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, di antaranya politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang memiliki kepentingan dengan pendidikan. Dalam hal ini, lembaga sekolah bertanggung jawab menerapkan kerangka kerja dalam mengoptimalkan kurikulum. Di dalam kerangka kerja tersebut berisi informasi mengenai 1 Apa yang harus dipelajari dan dipahami peserta didik subyek, 2 Apa kompetensi peserta didik, 3 Berapa lama mereka dapat belajar jam belajar, dan 4 Dengan cara bagaimana peserta didik belajar tatap muka, tugas individu, tugas terstruktur. Pada hakikatnya kurikulum mengarah pada tujuan pendidikan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Cerdas yang ingin dicapai di sini bukan hanya pandai dan terampil tetapi mempunyai kemampuan dan kemauan untuk memanfaatkan kepandaian serta keterampilan tersebut dalam menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan bermasyarakat. Tahapan pengembangan kurikulum dilaksanakan dengan mengembangkan keempat elemen utama kurikulum, antara lain mengembangkan tujuan, materi, metode dan evaluasi. Setiap elemen kurikulum merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan dan saling memengaruhi. Sebagaimana pendapat Munir [4], dalam pengembangan kurikulum, setiap pengembangan satu komponen dapat memengaruhi pengembangan komponen yang lain. Pengembangan kurikulum perlu juga memerhatikan prinsip-prinsip pengembangan yang menjadi rambu-rambu kaidah yang terkandung dalam kurikulum itu sendiri. Terutama pada tahap perencanaan yang menggambarkan ciri suatu kurikulum. Menurut Sukmadinata [9], prinsip kurikulum terbagi menjadi dua yaitu 1. Prinsip umum, antara lain a. Prinsip relevansi Kesesuaian atau relevan terbagi menjadi dua jenis, relevansi internal dan eksternal. Relevansi internal yaitu menyesuaikan antar komponen kurikulum tujuan, isi, metode, evaluasi agar mencapai tujuan tertentu, belajar, dan kemampuan peserta didik. Kurikulum dapat dinilai baik jika terdapat koherensi dan konsistensi antar komponen dalam relevansi internal. Relevansi eksternal yaitu menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan masyarakat masa kini dan masa depan. Kurikulum dituntut menyiapkan program belajar bagi peserta didik agar dapat beradabtasi dengan lingkungan masyarakat dimana ia berada. Pakar pengembang kurikulum harus memiliki wawasan tentang kehidupan masyarakat masa sekarang dan masa yang akan datang, artinya pengembang kurikulum harus dapat memprediksi masa depan agar dapat memenuhi kebutuhan relevansi eksternal. b. Prinsip fleksibilitas Kurikulum harus lentur, artinya sistem yang ada dalam kurikulum memberi alternatif dalam mencapai tujuan, menyesuaikan strategi dan SAP Susunan Artikel Pendidikan Vol. 5 No. 1 Agustus 2020 p-ISSN 2527-967X e-ISSN 2549-2845 62 metode dengan situasi dan kondisi tertentu. c. Prinsip efektivitas Kurikulum berorientasi kepada tujuan yang ingin dicapai. Kurikulum sebagai instrumen pencapaian tujuan, maka jenis dan karakteristik tujuan harus jelas. Kejelasan tujuan akan mengarah pada penentuan isi, metode dan sistem evaluasi juga model dan konsep kurikulum apa yang hendak digunakan. Tujuan tersebut dapat mempermudah implementasi kurikulum. d. Prinsip efisiensi Pengembang kurikulum harus memahami situasi dan kodisi tempat kurikulum akan dilaksanakan, tujuannya agar desain kurikulum memenuhi prinsip „praktis‟ atau mudah diterapkan di lapangan. e. Prinsip kontinuitas Kurikulum yang disusun harus berkesinambungan baik antar kelas maupun jenjang pendidikan, dengan tujuan agar proses belajar mengajar bisa maju secara berkesinambungan. Maka dibutuhkan kerja sama antara pengembang kurikulum dari berbagai kelas dan jenjang pendidikan. 2. Prinsip khusus Prinsip-prinsip khusus hanya berlaku pada tempat dan situasi tertentu. Misalnya suatu jenjang dan jenis pendidikan di masing-masing wilayah memiliki karakteristik berbeda di beberapa aspek. Prinsip tersebut menunjukkan adanya perbedaan penggunaan prinsip yang khas. Prinsip-prinsip khusus, yaitu a. Prinsip mengenai tujuan pendidikan. b. Prinsip mengenai isi pendidikan. c. Prindip mengenai proses pembelajaran. d. Prinsip mengenai alat bantu dan media pembelajaran. e. Prinsip mengenai evaluasi. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Pengembangan Kurikulum Landasan pengembangan kurikulum layaknya fondasi bangunan. Gedung menjulang tinggi akan roboh jika berdiri di atas fondasi yang rapuh, oleh karena itu sebelum membangun sebuah gedung maka perlu membangun fondasi yang kokoh terlebih dahulu. Perkembangan IPTEK juga sebagai pemacu kemajuan pembangunan. Perkembangan IPTEK secara langsung berimplikasi terhadap pengembangan kurikulum yang di dalamnya mencakup pembaruan isi atau materi pendidikan, penggunaan strategi dan media pembelajaran, serta penggunaan sistem evaluasi [15]. Materi pelajaran sepatutnya hasil perkembangan IPTEK kontemporer, baik berhubungan dengan hasil perolehan informasi, ataupun cara memperoleh informasi tersebut dan memanfaatkannya untuk masyarakat. Tentu dalam proses pengembangan kurikulum harus tetap mengacu kepada prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Dukungan IPTEK kepada pembangunan dapat mewujudkan masyarakat maju, mandiri dan sejahtera. Perkembangan IPTEK semakin cepat dan persaingan antar-bangsa makin meluas. Oleh karena itu dibutuhkan pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan IPTEK yang mana akan memberi implikasi terhadap pengembangan SDM. Tercapainya kemampuan SDM agar dapat memanfaatkan, mengembangkan dan menguasai IPTEK, maka ada beberapa hal yang dijadikan sebagai dasar, yaitu a Pembangunan IPTEK selayaknya berada dalam keseimbangan yang efektif juga dinamis dengan pembinaan SDM, pelaksanaan penelitian, pengembangan sarana prasarana IPTEK, b Penyusunan IPTEK terarah pada peningkatan kehidupan bangsa dan kualitas kesejahteraan, c Pembangunan IPTEK SAP Susunan Artikel Pendidikan Vol. 5 No. 1 Agustus 2020 p-ISSN 2527-967X e-ISSN 2549-2845 63 sepadan dengan nilai-nilai agama, kondisi sosial budaya, nilai luhur, dan lingkungan hidup, d Penyusunan IPTEK harus berdasar pada upaya peningkatan efektivitas penelitian, efisiensi, produktivitas dan pengembangan yang lebih tinggi, e Pembangunan IPTEK harus dapat memberikan solusi penyelesaian masalah konkret [16]. Proses penyempurnaan kurikulum atau pengembangan kurikulum menjadi otonomi sekolah. Sekolah diberi hak penuh dalam mengembangkan kurikulum, supaya kurikulum sekolah dicocokkan dengan kondisi sekolah masing-masing, yaitu menyesuaikan kondisi peserta didiknya dan potensi daerah yang ada [17]. Pendapat tersebut selaras dengan penyempurnaan yang terus dilakukan oleh pengembang kurikulum di Indonesia. Seringkali kita mendengar istilah “ganti menteri pendidikan, ganti kurikulum”, padahal pergantian kurikulum sudah menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja bagi negara di dunia dengan pendidikan yang maju. Hal itu dilakukan untuk mendorong relevansi pendidikan terhadap tantangan zaman, sehingga kurikulum yang diterapkan di lembaga pendidikan Indonesia tidak mungkin stagnan [18]. Pengembangan kurikulum bukan tentang abstraksi, akan tetapi mempersiapkan berbagai alternatif untuk tindakan yang merupakan inspirasi dari ide-ide dan beberapa penyesuaian lain yang dinilai penting [19]. Supaya kurikulum sesuai dengan perkembangan IPTEK maka harus memperhatikan kebutuhan masyarakat, industri, menyesuaikan dengan teknologi yang berkembang saat itu, menyesuaikan pola hidup, syarat dan tuntunan tenaga kerja, serta menginterpretasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan IPTEK. Audrey Nicholls dan Howard Nicholls berpendapat bahwa pengembangan kurikulum ialah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar agar membawa peserta didik ke arah perubahan-perubahan yang diinginkan dan mengukur sampai di mana perubahan tersebut telah terjadi dalam diri peserta didik [19]. Saat ini pemerintah dan seluruh penggerak pendidikan terus berjuang dan bekerja sama untuk mengembangkan kurikulum. Sebagaimana perkembangan saat ini, banyak inovasi pembelajaran yang diimplementasikan di berbagai sekolah, contohnya multimedia pembelajaran interaktif online, untuk media pembelajaran online baik audio, visual, maupun audio visual di antaranya 1 Radio edukasi Kemdikbud, 2 suara edukasi, 3 Jogja belajar radio, 4 Podcast English first podcast untuk belajar listening bahasa Inggris, 5 Sumber belajar Kemdikbud audio, 6 Google classroom, 7 Microsoft teams, 8 Moodle, 9 Kelas digital rumah belajar Kemdikbud, 10 Zoom, 11 Ruang guru, 12 Zenius, 13 Quipper, 14 Visual novel berbasis gamifikasi dan banyak lagi aplikasi serta media lainnya, kemudian evaluasi pembelajaran dengan menggunakan yang dapat diakses melalui smartphone, iphone, ataupun komputer. Selain itu, peranan pendidik sangat penting dalam penyampaian materi ajar yang telah disusun dalam kurikulum. Dengan demikian, pengembangan IPTEK dalam pengembangan kurikulum harus dilakukan oleh pendidik melalui pemanfaatan media belajar, sumber belajar, sistem penyampaian, pengembangan dimulai dengan unit-unit belajar yang melibatkan berbagai langkah disertai dengan uji coba diteruskan dengan unit-unit lain. SIMPULAN Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut Pertama, lembaga pendidikan, khususnya jalur SAP Susunan Artikel Pendidikan Vol. 5 No. 1 Agustus 2020 p-ISSN 2527-967X e-ISSN 2549-2845 64 sekolah harus mampu menunjang dan mengantisipasi perkembangan IPTEK baik yang dihadapi saat ini maupun tantangan masa depan. Kedua, materi atau bahan ajar sepatutnya hasil perkembangan IPTEK kontemporer, baik berkaitan dengan hasil perolehan informasi, ataupun cara memperoleh informasi tersebut dan memanfaatkannya untuk masyarakat. Ketiga, pengembang kurikulum memperhatikan kebutuhan masyarakat, industri, pola hidup, lapangan kerja, serta menginterpretasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan IPTEK supaya kurikulum sesuai dengan perkembangan IPTEK. Keempat, dibutuhkan pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan IPTEK yang akan memberi implikasi terhadap pengembangan sumber daya manusia. DAFTAR PUSTAKA [1] “Indeks Modal Manusia Indonesia Kalah Jauh dari Singapura dan Vietnam”. Jakarta, 2019. [2] M. I. Dacholfany. “Inisiasi Strategi Manajemen Lembaga Pendidikan Islam dalam Meningkatkan Mutu Sumber Daya Manusia Islami di Indonesia dalam Menghadapi Era Globalisasi”. At-Tajdid, vol. 1, no. 1, pp. 1–13, 2017. [3] R. N. Sajidan. Peningkatan Proses Pembelajaran dan Penilaian Pembelajaran Abad 21 dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran SMK. Surakarta Direktorat Pembinaan SMK, 2018. [4] Munir. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung Alfabeta, 2010. [5] R. N. Siregar. “Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah”. Stud. Multidisipliner, vol. 4, no. 2, pp. 67–89, 2017. [6] Alhamuddin. “Sejarah Kurikulum di Indonesia”. Nur El-Islam, vol. 1, no. 2, pp. 48–58, 2014. [7] Z. Arifin. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung Remaja Rosdakarya, 2017. [8] R. Ariani. “Analisis Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pendidikan dalam Pengembangan Multimedia Interaktif Program Pasca Sarjana Pendidikan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Padang”. J. Penelit. Pembelajaran Fis., vol. 5, no. 2, pp. 155–162, 2019. [9] N. S. Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum. Teori dan Praktek. Bandung Remaja Rosdakarya, 2017. [10] Nazwirman. “Pembangunan IPTEK di Indonesia”. Cakrawala, vol. 10, no. 1, pp. 43–49, 2010. [11] Nurmadiah. “Kurikulum Pendidikan Agama Islam”. J. AL-AFKAR, vol. III, no. Kurikulum, p. 43, 2014. [12] T. Suharto. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta AR-RUZZ MEDIA, 2013. [13] D. Sukirman & A. Nugraha. Landasan Pengembangan Kurikulum. 2014. [14] M. Ibrahim. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Biologi. Tangerang Selatan Universitas Terbuka, 2012. [15] M. Putri. “Manajemen Kurikulum Program Basic Technology Education Pendidikan Teknologi Dasar di SMP AL Kautsar Bandar Lampung”. Tesis. Universitas Lampung. Bandar Lampung, 2016. [16] O. Hamalik. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta Bumi Aksara, 2013. [17] S. Subarkah. “Manajemen Pengembangan Kurikulum SMP Alam Al Aqwiya Cilongok Banyumas”. Tesis. IAIN Purwokerto, 2016. [18] M. Asri. “Dinamika Kurikulum di SAP Susunan Artikel Pendidikan Vol. 5 No. 1 Agustus 2020 p-ISSN 2527-967X e-ISSN 2549-2845 65 Indonesia”. Model. J. Progr. Stud. PGMI, vol. 4, no. 2, pp. 192–202, 2017. [19] O. Hamalik. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung Remaja Rosdakarya, 2010. ... Peningkatan kualitas dalam penguasaan IPTEK tergantung pada kurikulum yang digunakan di sekolah. Hal ini sejalan dengan pendapat Camelia 2020, dalam pengembangan kurikulum harus tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat yang akan menggunakannya, industri, pola hidup, dan lapangan kerja, serta menginterpretasi kebutuhan kehidupan dalam kerangka kepentingan IPTEK. Kurikulum yang digunakan Indonesia sekarang merupakan hasil penerapan dari UU No 32 tahun 2013, yaitu kurikulum 2013 atau sering disebut K13. ...Irwan SimanihurukPenelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan LKPD berbasis REACT pada materi energi dan usaha yang layak digunakan untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar peserta didik. Jenis penelitian ini merupakan Research and Develoment R&D menggunakan model 4D oleh Thiagarajan. Subjek dalam penelitian ini adalah ahli desain, ahli materi, ahli pembelajaran, guru fisika dan peserta didik kelas X MIA 1 SMA N 8 Medan yang berjumlah 29 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari angket uji kelayakan ahli desain, ahli materi, dan ahli pembelajaran, angket penilaian guru, lembar observasi, instrumen soal pretest-posttest KPS, soal hasil belajar serta angket respon pengguna terhadap LKPD berbasis REACT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD berbasis REACT yang dikembangkan berada kategori sangat layak digunakan dalam proses pembelajaran berdasarkan hasil uji validasi ahli desain 96,43%, ahli materi 92,86%, ahli pembelajaran 96,67% dan guru fisika 91,07%. Pada uji coba LKPD diperoleh hasil observasi 86,08% dan respon peserta didik 90,64%. Berdasarkan perhitungan N-gain, LKPD berbasis REACT termasuk dalam kategori sedang untuk meningkatkan KPS peserta didik dengan nilai 0,68. Hasil ketuntasan belajar peserta didik sebesar 86,21% dan rata-rata hasil belajar 84,60. Dengan demikian disimpulkan bahwa LKPD berbasis REACT layak, praktis, dan efektif digunakan untuk meningkatkan KPS dan hasil belajar peserta didik.... Ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami kemajuan dengan sangat cepat seiring dengan peningkatan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi khususnya dibidang pendidikan sangat luar biasa. Salah satu bagian dari teknologi yang sudah dimanafaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah multimedia Camelia, 2020. Dalam bidang pendidikan teknologi sangat mendukung perubahan dari pembelajaran konvesional menuju pembelajaran berbasis teknologi Sujono, 2017. ...Ria Nofia Fadriati FadriatiNurlaila NurlailaAnnisaul KhairatThe lesson material in Class VIII Fiqh subject at MTsN 5 Tanah Datar does not vary and is less attractive to students so based on a needs analysis an integrative-based e-module is needed using Flip Pdf Corporation. This study aims to determine the results of the validity and results of the practice of integrative-based e-modules on the subject matter of halal and haram food and beverages in Islamic Jurisprudence subjects at MTsN 5 Tanah Datar. The research method used is research and development research and development of the 4D model through four stages of define, design, develop and disseminate. The research that the researchers did was only the 3 D stage, namely define, design, develop. The test subjects in this study were 26 class VIII students. The instruments for collecting data in this study were validity sheets and practicality sheets. Quantitative data analysis techniques in this study used Aiken V with a minimum validity and practicality score of 71. Qualitative data analysis techniques used quantitative descriptive data analysis techniques. The results of this study indicate that the results of validating the development of an integrative Jurisprudence module on halal and haram food materials using the Flip Pdf Corporation application for Madrasah Tsanawiyah is 83% with a very valid category. While the practicality result is 88% in the very practical and usable category.... Education is a human need to improve quality and human resources Ningrum, 2016. Education always undergoes changes, developments, and improvements in accordance with the development of science Camelia, 2020. Developments in the field of education include various components involved, be it the implementation of education in the field teacher competence and quality of educators, the quality of educators, curriculum tools, and facilities and infrastructure. ...Muhammad Rafsan WiratamaMuhammad Irvan Fadillah RamadhanPrayoga BestariDede IswandiThis research is motivated by the negative impact of the rapid development of globalization which is the main cause of the decline in the sense of nationalism. The decline in the spirit and attitude of nationalism among the youth is currently getting higher. Youth who should have a sense of love and pride for their country, in fact, have an indifferent attitude that results in their laziness to participate in the flag ceremony, undisciplined, preferring foreign products, and ashamed to wear their own nation's cultural attributes such as the use of batik. This opinion caused various problems among students, namely during the flag ceremony there were still many students who were not disciplined, some did not participate in the flag ceremony at all, did not memorize the Indonesian national anthem, did not memorize Pancasila, did not follow the rules and regulations, and do not respect each other. This research uses a qualitative approach and case study research methods. Data collection techniques carried out in this study were interviews, observations, and documentation studies as well as data analysis techniques by means of data reduction, data presentation, conclusion drawing, and verification as well as data validity. The results of this study indicate that a The Rengasdengklok historical site is relevant to be used as a learning resource for Civics because it is full of struggle values that can be used to increase the students' spirit of nationalism. b The role of teachers in schools is quite good by coordinating with schools and accommodating students well. c The results from the use of historical sites have quite an impact as shown by changes in students' attitudes towards a better direction. d while in the process of utilization, there are obstacles and ways to overcome them. External and internal constraints can be resolved by coordination between all elements such as the principal, vice principal of the curriculum section, PPKn teachers, and students.... Science and technology result from human ideas and are objective so that it is readily accepted and reached by the community. A nation will experience a setback because the people in it cannot utilize natural resources in terms of science and technology [2]. The innovations made to the science of agricultural production and the application of advanced technology have a significant impact on agricultural output. ...R A MaulanaE AntriyandartiThe establishment of agricultural institutions is necessary to pay more attention to the future of agriculture. Agricultural Extension Board is one of the institutions created by the government to help disseminate agricultural information, knowledge, and technology to farmers. The research was conducted in the karst area of Girisubo sub-district, Gunungkidul district, which is a dry area with various limitations in natural resources for agricultural activities. This study aims to determine the role and strategy of the Agricultural Extension Board in transferring knowledge and technology to farmers so that innovation has a significant impact on agricultural yields. This study uses a descriptive method through observation, interview, field practice, and exploratory approach. The results showed that the transfer of knowledge and technology activities was carried out in several stages prepared in advance within three months using a communication strategy with educative techniques. The transfer of knowledge and technology schedule is contained in the LAKU SUSI Latihan Kunjungan dan Supervisi /Visiting and Supervision Training program in the fostered villages in the karst area.... Koresponden author Muhammad Arvin Wicaksono Email 3020210011 artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY SA 2022 Pendahuluan Dengan Pesatnya Kemajuan dan Perkembangan IPTEK dinilai dapat mempengaruhi segala aspek kehidupan dan kegiatan pada masyarakat Camelia, 2020. Munculnya Internet mengakibatkan hal demikian dapat terjadi karena Internetlah yang dapat dikatakan sebagai penjelajahan dunia secara digital dan masyarakat pun terhadap perilaku-perilaku baru tentu akan beradaptasi, misalnya seperti berkaitan dengan informasi yang transparan dan berbagai aspek yang dipermudah akibat adanya internet. ...Wibisono OedoyoHerangga HeranggaPriscillia Putri Hermin Purnomo Muhammad Arvin WicaksonoAdjustment of relations between parties and places of communication is not only pegged to space and time, this happens because of the sophisticated technology and ease of communication that has developed rapidly as a result of the big changes in the Industrial Revolution Era The activity of resolving business dispute problems during this pandemic is greatly helped by the existence of electronic arbitration whose implementation process can be carried out using various existing arbitration institutions. Writing this journal aims to explain and urge the public that resolving business disputes can use arbitration institutions and be accompanied by legal force. Using normative and empirical legal research methods is the right solution in compiling this research, and taking a legislative and comparative law approach is expected to complete this research. As long as the provisions of Law no. 30 of 1999 concerning Arbitration and Alternative Dispute Resolution UUAAPS goes hand in hand, so the electronic arbitration arrangements and procedures remain in effect. The need for Law Number 19 of 2016 concerning Amendments to Law Number 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions as the legal basis for supporting the provisions of Article 4 paragraph 3 of the AAPS Law is to strengthen the regulations in Article 4 paragraph 3 of the AAPS Law. So it can be concluded that carrying out Electronic Arbitration in Indonesia during the COVID-19 pandemic is very helpful for business actors to be able to resolve their disputes because the convenience of these electronic devices makes business actors more efficient in running their PamujiKholid MawardiMerdeka curriculum provides an opportunity for every teacher to express their creativity and ideas in curriculum development efforts, including Islamic Religious Education PAI teachers at the elementary school level. One of them is an adequate response to the existence of multiculturalism in social life which is sunatullah. This study aimed to discover the implementation pattern of multiculturalism-based Islamic Religious Education PAI curriculum development in the Merdeka curriculum and its relationship with the teacher's role as a curriculum developer, especially at the elementary school level. This research is based on a literature study using a descriptive-qualitative method aimed at collecting data through documentation techniques, both in printed and electronic form. The data analysis was carried out in three stages editing, organizing, finding, and conducting further analysis. The results of the study show that a multicultural-based curriculum development pattern can be carried out in the Islamic Religious Education teaching module in the Merdeka curriculum, especially in the sections learning objectives, Pancasila student profiles, apperception, and triggering questions, learning methods and activities, assessment instruments, reflection, and enrichment techniques. Multicultural values that can be included as content in curriculum development include tolerance, equality, justice, and democracy freedom. The development is carried out by incorporating the value of multiculturalism, which includes equality, justice, democracy freedom, and SupriadiDedy Heri WibowoChairul Anam AfganiPerkembangan dari kurikulum senantiasa mengacu pada suatu pemikiran yang menjadi dasar pertimbangan tertentu yang perlu dipedomani oleh satuan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi lingkungan strategis, mengevaluasi implementasi kurikulum operasional dan merumuskan inovasi terhadap pengembangan penyusunan kurikulum Berbasis kemaritiman di Sekolah Menengah Kejuruan, ditinjau dari aspek karakteristik satuan pendidikan, visi misi dan tujuan, pengorganisasian Pembelajaran, perencanaan pembelajaran serta evaluasi dan pendampingan. Penelitian dilaksanakan dengan desain penelitian kuantitatif. Tempat penelitian di SMK Negeri 1 Alas kabupaten pengumpulan data menggunakan angket. Data yang sifatnya kuantitatif, dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, sedangkan data yang bersifat kualitatif akan diinterpretasikan secara kualitatif untuk mengungkap makna yang tersirat di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85% proses implementasi kurikulum telah sesuai dengan aspek komponen pengembangan kurikulum. Berbagai masalah yang ditemukan antara lain pendampingan kurikulum yang masih terbatas, peran stakeholder yang belum optimal, kualitas dan kompetensi SDM dalam pendampingan kurikulum yang masih kurang. Agar implementasi kurikulum operasional satuan pendidikan dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan dukungan semua stakeholder, penguatan indikator kemaritiman sebagai muatan utama, dan pendampingan pengembangan kurikulum menggunakan pola cluster satuan Nauli SiregarBasic Islamic education curriculum is the Qur'an and Hadith, but not explained in detail. In the Qur'an and Hadith The term curriculum is more directed at the points of material that will be taught to students. PAI curriculum orientation refers to the development of values, community needs, talents and interests of students, opportunities for workers, and adjustments to the development of science and technology. In planning the curriculum, the main ones are the goals to be achieved according to various parties, curriculum content to support the achievement of goals, strategies in developing the curriculum, and evaluation as a tool to measure learning completeness and achievement of NurmadiahKurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. Tujuan pendidikan disuatu bangsa atau negara ditentukan oleh falsafah dan pandangan hidup bangsa atau negara tersebut. Berbedanya falsafah dan pandangan hidup suatu bangsa atau negara menyebabkan berbeda pula tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan tersebut dan sekaligus akan berpengaruh pula terhadap negara tersebut. Begitu pula perubahan politik pemerintahan suatu negara mempengaruhi pula bidang pendidikan, yang sering membawa akibat terjadinya perubahan kurikulum yang berlaku. Dengan demikian kurikulum senantiasa bersifat dinamis guna lebih menyesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terjadi. Kurikulum PAI memiliki kedudukan sangat penting untuk membentuk kepribadian seseorang. Dalam kenyataannya, guru PAI sebagai pelaksana kurikulum masih belum memahami hakikat kurikulum. Masih banyak pendidik PAI yang menyusun silabus dan RPP sebagai bagian dari kurikulum hanya untuk administrasi. Dengan memahami kurikulum, para pendidik dapat memilih dan menentukan tujuan pembelajaran, metode, teknik, media pengajaran dan alat evaluasi pengajaran yang sesuai dan tepat. Untuk itu dalam melakukan kajian terhadap keberhasilan sistem pendidikan ditentukan oleh tujuan yang realistis, dapat diterima oleh semua pihak, sarana dan organisasi yang baik, intensitas pekerjaan yang realistis tinggi dan kurikulum yang tepat guna. Oleh karena itu sudah sewajarnya para pendidik dan tenaga kependidikan bidang pendidikan Islam memahami kurikulum serta berusaha mengembangkannya. Komponen kurikulum dalam pendidikan sangat berarti karena merupakan operasionalisasi tujuan yang dicita-citakan, bahwa tujuan tidak akan tercapai tanpa keterlibatan kurikulum Modal Manusia Indonesia Kalah Jauh dari Singapura dan "Indeks Modal Manusia Indonesia Kalah Jauh dari Singapura dan Vietnam". Jakarta, Proses Pembelajaran dan Penilaian Pembelajaran Abad 21 dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran SMKR N SajidanR. N. Sajidan. Peningkatan Proses Pembelajaran dan Penilaian Pembelajaran Abad 21 dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran SMK. Surakarta Direktorat Pembinaan SMK, Kurikulum di IndonesiaM AsriM. Asri. "Dinamika Kurikulum di Indonesia". Model. J. Progr. Stud. PGMI, vol. 4, no. 2, pp. 192-202, Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pendidikan dalam Pengembangan Multimedia Interaktif Program Pasca Sarjana Pendidikan Fisika, FMIPA Universitas Negeri PadangR ArianiR. Ariani. "Analisis Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pendidikan dalam Pengembangan Multimedia Interaktif Program Pasca Sarjana Pendidikan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Padang". J. Penelit. Pembelajaran Fis., vol. 5, no. 2, pp. 155-162, Kurikulum. Teori dan Praktek. Bandung Remaja RosdakaryaN S SukmadinataN. S. Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum. Teori dan Praktek. Bandung Remaja Rosdakarya, IPTEK di IndonesiaNazwirmanNazwirman. "Pembangunan IPTEK di Indonesia". Cakrawala, vol. 10, no. 1, pp. 43-49, SuhartoT. Suharto. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta AR-RUZZ MEDIA, 2013. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Terikat Nilai atau Bebas NilaiPembahasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dapat didiskusikan pada dua paradigma. Paradigma pertama, yaitu menekankan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai yang dipelopori oleh paradigma rencana terbuka kemajuan ilmu pengetahuan atau proses The Structure of Scientific Revolution, Thomas S. Kuhn. Sedangkan paradigma kedua, yaitu paradigma evolusi pengetahuan, Karl R. Popper. Dari dua paradigm ini akan disintesiskan sebagaimana pengembangan ilmu berdasarkan Lakatos’s research programmes. Dialektika paradigma pengembangan ilmu pengetahuan tersebut masing-masing diuraikan berikut Ilmu Pengetahuan Terikat NilaiDialektika yang muncul dalam literatur filsafat Barat mengenai sains menjadi pembahasan yang penting. Mengingat benturan antar teori dan pemikiran ilmu pengetahuan dari para ilmuan terus bergulir sejak masa renaisance hingga post-modern. Setelah ilmu pengetahuan bersatu dengan teknologi pada pertengahan abad ke-19, sciences menjadi kekuatan penting dan sentral dalam perubahan sosial dan budaya masyarakat. Karena daya tarik ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat dan besar mempengaruhi secara luas ke dalam pikiran setiap manusia. Pengaruhnya telah mewarnai seluruh masyarakat dunia dari Timur hingga Barat. Efek dominan ini terpengaruh oleh model epistemologi yang berkembang terutama aliran rasionalisme dan masyarakat ilmiah untuk menikmati ilmu pengetahuan yang dirumuskan bersama dengan paradigmanya, membuat rasa ingin tahu yang mendalam oleh sebagian ilmuan lainnya, seperti yang dialami Thomas S. Kuhn. Ilmuwan ini melihat adanya ketidakpedulian terhadap sesuatu yang ada dibalik ilmu pengetahuan itu. Di satu pihak, masyarakat hanya menikmati ilmu pengetahuan dalam skala praktis, sedangkan di pihak lain para ilmuan menerapkan penelitian dan eksperimennya dengan kadar persepsinya terhadap alam yang menurutnya sudah tepat. Kedua sikap tersebut menuntun Thomas S. Khun untuk melakukan sebuah upaya mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan berkembang tidak bisa lepas dari paradigma masyarakat ilmiah. Maka Kuhn mencetuskan apa yang ia sebut sebagai revolusi sains science revolution.Pengembangan ilmu pengetahuan berdasarkan Kuhn’s Paradigm yang dikembangkan oleh Thomas S. Kuhn dalam tulisannya The Structure of Scientific Revolution. Pemikiran tersebut memberikan gambaran bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara revolusioner. History of science merupakan gambaran menyangkut perubahan berpikir/pemikiran manusia. Memahami perubahan pemikiran terkait tentang perubahan-perubahan tentang teori yang dianut atau disepakati para pakar, dan pemahaman tentang karakteristik sosiologis masyarakat ilmiah/para pakar dalam hubungannya dengan sikap perubahan. Bentuk perubahan berpikir ini membentuk suatu paradigma cara pandang bagi setiap masyarakat ilmiah. Masyarakat ilmiah pada paradigma ini menempatkan atau mendorong argumentasi tentang sebuah kebenaran ilmu pengetahuan itu singkat, rencana terbuka kemajuan ilmu pengetahuan berdasarkan Kuhn’s paradigm ini dapat digambarkan sebagai berikutBagan Rencana Kemajuan Ilmu Pengetahuan Berdasarkan Khun’s ParadigmSumber diolah dari Thomas S. Kuhn. 2008. The Structure of Scientific Revolution. Bandung PT. Remaja RosdakaryaBerdasarkan bagan di atas, Kuhn menjelaskan bahwa Pre-science merupakan characterized by total disagreement and constant debate over normal science involves detailed attempts to articulate a paradigm with the aim of improving the match between it and nature. A normal scientist must be uncritical of the paradigm in which he works. A scientific revolution yang dimaksudkan corresponds to the abandomment of one paradigm and the adoption of new one, not by individual scientist only but by the relevant scientific community as a whole. A more and more individual scientists, for a variety of reasons, are converted to the new paradigm. Jadi Ilmu pengetahuan berkembang berdasarkan observasi individual ilmuwan yang bersangkutan dan memberikan interpretasi masing-masing. Sebagaimana different scientists or groups of scientist may well interpret and apply the paradigm in somewhat different Ilmu Pengetahuan Bebas NilaiPengembangan ilmu pengetahuan berdasarkan paradigma evolusi pengetahuan, Karl R. Popper ini merupakan antithesa atas Kuhn’s paradigm. Karl R. Popper dalam karyanya The Logic of Scientific Discovery memberikan kritikan bahwa 1 “Progress through revolutions is Kuhn’a altrnative to the cumulative progress characteristics of inductivist accounts of science. Scientific knowledge grows continuously as more numerous and more various observations are made, enabling new concepts to be ferformed, old ones to be refined, and new lawful relationship between them to be discovered”; 2 From Kuhn’s particular point of view, this is mistaken because it ignores the role played by paradigms in guiding observation and experiement. It is just because practised within them that the replacement of one by another must be revolutionary one. Berdasarkan kritikan tersebut, Karl R. Popper menyatakan bahwa ilmu pengetahuan bukan semata-mata produk kesepakatan sosial; ilmu pengetahuan berkembang secara evolusioner; perkembangan ilmu pengetahuan melalui subjek peneliti; dan rumus perkembangan ilmu pengetahuan, yaitu problem 1, teori tentatif, error elimination, dan muncul problem paradigma evolusi pengetahuan inilah memberikan penegasan bahwa pertimbangan moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan terkesampingkan. Ilmu pengetahuan harus bebas dari segala nilai agar dapat menempatkan diri secara objektif. Pengembangan ilmu pengetahuan pada paradigm ini penegasian pada kategori etika/ Ackermann, Robert. 1970. The Philoshopy of sciences An Introduction. New York Lewis White. 1952. Philosophy Inquiry An Introduction to Philosophy. New York Cornelius. 1937. An Introduction to the philosophy of science. New York MacmillanBertens, K. 1999. Etika. Jakarta PT Gramedia May. 1953. Reading in the Philosophy of Science. New York Alfred Cyril. 1962. The Fundamental Questions of Philosophy. New York Collier Dosen Filsafat Ilmu. 1996. Filsafat Ilmu. Yogyakarta Liberti Yogyakarta Lihat Filsafat Selengkapnya Dari berbagai ahli yang mencoba membuat definisi penelitian yang tepat, pada dasarnya penelitian adalah suatu proses penyelidikan atau pencarian sesuatu fakta dan prinsip-prinsip yang dilakukan secara sistematis, hati-hati, kritis critical thinking dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dari pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian merupakan suatu metode untuk menemukan kebenaran, sehingga penelitian merupakan metode berpikir secara kritis. Ilmu pengetahuan adalah usaha yang bersifat multi dimensional, sehingga dapat didefinisikan dalam berbagai cara dan tidak baku. Walau demikian ilmu pengetahuan perlu dilihat sebagai suatu dasar basic proses berpikir manusia dalam melaksanakan berbagai penelitian. Untuk itu ilmu pengetahuan dapat dihubungkan dengan metode dan proses penelitian tersebut. Relevansi penelitian dengan ilmu pengetahuan, berkembang dari upaya manusia mencari jawaban atas berbagai pertanyaan seperti “ini apa?”; “itu apa?”; “mengapa begini?”; “mengapa begitu?” dan selanjutnya berkembang menjadi pertanyaan “bagaimana hal itu terjadi?” serta “bagaimana memecahkannya?”. Dengan dorongan ingin tahu tersebut manusia selalu ingin mendapatkan pengetahuan mengenai permasalahan yang tidak diketahuinya sehingga pada akhirnya muncul pengetahuan-pengetahuan baru yang dikenal sebagai ilmu pengetahuan knowledgement yang sistematis dan terorganisir. Dengan mengguanakan akal dan pikiran yang reflektif, manusia merasa mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Pendekatan yang digunakan dapat bersifat ilmiah dan non-ilmiah. Pendekatan ilmiah dapat berupa penelitian-penelitian sedangkan pendekatan non-ilmiah dapat berupa akal sehat, prasangka, intuisi, penemuan kebetulan/ coba-coba trial and error dan mendapau otoritas ilmiah/pikiran kritis. Berdasakan pengertian di atas, terdapat hubungan yang erat antara ilmu pengetahuan dan penelitian. Para ahli menyebutkan bahwa tidak mungkin memisahkan ilmu dengan penelitian dan diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang sama. Almack 1930 mengatakan bahwa penelitian dan ilmu merupakan hasil dan proses. Penelitian merupakan proses sedangkan hasilnya adalah ilmu. Whitney 1960 menegaskan bahwa ilmu dan penelitian merupakan proses yang berlangsung secara bersama-sama. Artinya ilmu dan penelitian adalah proses yang sama sedangkan hasil dari proses tersebut adalah kebenaran truth. Kebenaran yang dimaksudkan adalah pengetahuan yang benar yang kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapa saja yang berkeinginan untuk mengujinya. Dengan relevansi/ hubungan tersebut dapat disebutkan berbagai aspek yang menjadi peranan dari ilmu dan penelitian sehingga dapat disebutkan sesuatu yang dilakukan itu merupakan karya keilmuan, seperti; 1. Mencandra/ Deskripsi/ Memerikan Fungsi ini berusaha untuk menggambarkan atau menjelaskan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan. 2. Menerangkan/ Eksplanasi Fungsi ini berusaha untuk menerangkan kondisi-kondisi yang mendasari munculnya permasalahan atau terjadinya peristiwa-peristiwa. 3. Penyusunan Teori Fungsi ini berusaha untuk menyusun teori/ prinsip/ aturan-aturan mengenai hubungan antara kondisi/ peristiwa yang satu dengan yang lain. 4. Peramalan/ Prediksi Fungsi ini berusaha untuk mengadakan ramalan/ prediksi, estimasi dan proyeksi terhadap permasalahan/ peristiwa dan dampak yang akan terjadi. 5. Pengendalian/ Controling Fungsi ini berusaha untuk melakukan tindakan-tindakan pengendalian terhadap permasalahan/ perstiwa/ gejala. Perguruan Tinggi sebagai suatu lembaga pendidikan tinggi perlu melaksanakan kegiatan penelitian sebagai perwujudan dari pelaksanaan salah satu Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dosen tenaga pengajar sebagai perangkat yang penting dalam kegiatan akademik di perguruan tinggi mempunyai kewajiban mengemban ketiga tugas tersebut. Searah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka para dosen diharapkan mampu maningkatkan kemampuan dan ketrampilannya melalui penelitian, baik yang berbasis teknik maupun sosial ekonomi. Selain untuk peningkatan kemampuan dan ketrampilan sendiri, untuk meningkatkan kegairahan kehidupan akademik, mahasiswa juga mendapat perhatian penting dalam kegiatan penelitian. Dosen-dosen turut bertanggung jawab dalam hal meningkatkan keinginan, sikap, dan kemampuan mahasiswanya dalam melakukan penelitian. Salah satu usaha yang dapat ditempuh adalah berusaha untuk melakukan penelitian sendiri artinya penelitian dilakukan secara mandiri dan sesuai degan etika penelitian baik oleh para dosen atau perguruan tinggi atau dengan melibatkan dosen dan mahasiswa. Penelitian yang mampu dilakukan secara mandiri nantinya akan mampu meningkatkan kualitas dosen maupun perguruan tinggi. Dalam rangka usaha tersebut, pengetahuan dan ketrampilan para dosen terhadap penelitian sangat perlu, terutama Metodologi Penelitian. Hubungannya dengan peningkatan kegairahan meneliti para mahasiswa maka diharapkan dalam setiap mata kuliah yang diajarkan ada satu mata kuliah khusus tentang Metodologi Penelitian. Melalui penelitian, diharapkan akan muncul pengetahuan-pengetahuan baru atau terobosan-terobosan yang berguna bagi perguruan tinggi maupun pembangunan suatu bangsa. Di samping untuk keperluan peningkatan pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan para peneliti, satu hal yang sangat penting adalah peranan penelitian terhadap perkembangan suatu bangsa. Artinya makna atau arti suatu penelitiaan bagi pembangunan bangsa tersebut. Dari berbagai literatur dan media massa, dapat diketahui bahwa ternyata tidak ada satu negara maju di dunia yang berhasil dalam pembangunan tanpa didukung oleh kegiatan penelitian. Ada anggapan jika dilihat secara sepintas bahwa penelitian hanya dapat dilakukan oleh negara-negara maju. Anggapan ini karena mereka mempunyai dana dan tenaga peneliti yang memadai; tetapi ternyata sebanyak 98% dari biaya penelitian di dunia ini dikeluarkan untuk penelitiaan-penelitian di negara berkembang. Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk penelitian tidak hanya dapat dilihat dari jumlah uang dan tenaga yang dipergunakan tetapi yang paling penting adalah manfaat dari penelitian tersebut bagi pembangunan negara-negara berkembang. Khususnya bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, peranan penelitian dalam sejarah pembangunan bangsa sudah tidak perlu diragukan lagi. Melalui penelitian-penelitian yang pernah dilakukan maka segala masalah atau potensi yang ada selama proses pembangunan berlangsung dapat diketahui. Hanya sengan penelitian sehingga informasi/ data yang relatif lengkap dapat diperoleh. Perencanaan pembangunan harus selalu didasarkan kepada data/ informasi yang diperoleh melalui penelitian. Adalah sangat tidaka mungkin untuk merencanakan pembangunan tanpa penggunaan data yang terpercaya. Hasil pengujian-pengujian, evaluasi dan tinjauan kembali terhadap kegiatan pembangunan hanya dapat diketahui apabila penelitian dilaksanakan. Demikian penelitian memegang peran penting dalam setiap pengambilan keputusan atau langkah-langkah dalam segala aspek pembangunan. Penelitian tidak dapat dipisahkan dari tahap-tahap perkembangan kehidupan manusia, khususnya perkembangan ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pentingnya suatu penelitian dan hubungannya dengan berbagai hal sehingga spenelitian harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan berdasarkan etika kebenaran. Relevansinya sengan perguruan tinggi, maka pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan para tenaga pengajar dosen seagi ujung tombak dalam kehidupan kampus harus ditingkatkan. Selain untuk meningkatkan kemampuan sendiri diharapkan para dosen dapat meningkatkan kegairahan mahasiswa untuk meneliti. Untuk itu perlu pengetahuan dan kemampuan yang memadai sehingga penelitian tersebut dapat bermanfaat bagi perguruan tinggi negri dan swasta maupun pembangunan nasional bangsa dan negara. Relevansinya dengan pembangunan nasional maka penelitian merupakan dasar basic bagi pengambilan keputusan setiap langkah-langkah pelaksanaan dan perencanaan pembangunan. Sehubungan dengan itu perlu dana/ biaya dan sumber daya manusia tenaga peneliti yang besar agar penelitian dapat berlangsung dengan baik dan mempunyai manfaat yang besar bagi keberhasilan pembangunan nasional. Dari berbagai hal yang dikemukakan, ternyata penelitian yang dilakukan sendiri secara mandiri, efisien, efektif, kritis, dan didasarkan pada etika kebenaran merupakan aspek yang harus selalu menjadi perhatian utama. Selamat berlatih dan meneliti. Sejarah Perkembangan Ilmu PengetahuanAbstract. This article focuses on the history of development of science. It firstly discusses the relation between human being and their efforts to know environment around them and to solve their daily problems by trial and error method. The next generation develops their inventions by examining, researching, and inventing the new one. It secondly proves that knowledge and sciences are across culture and civilization by explanations of development of sciences from ancient era like Egypt and Greek to medieval era like Islam and Medieval Europe and their last transformation to Modern Europe and contemporary Western history, knowledge, science, ancient civilizations, medieval era of Islam, modern Europe, contemporary Western civilizationPendahuluan “Sejarah tertulis berisi rekaman yang sangat sporadis dan tidak lengkap”, demikian Gordon Childe menulis, “tentang apa yang telah manusia lakukan di pelbagai belahan dunia selama lima ribu tahun terakhir”.[1]Idealnya sejarah adalah rekaman tentang semua rentetan peristiwa yang telah terjadi, yang berfungsi sebagai pengungkap segala sesuatu sesuai dengan fakta yang ada tanpa distorsi sedikitpun, tetapi pada kenyataannya ia hanya mengungkap sebagian rentetan peristiwa tersebut dan tidak bisa lepas sepenuhnya dari rekayasa yang biasanya dilakukan oleh penguasa politik. Meskipun fenomena semacam ini pernah terjadi, tetapi hal ini tidak bisa dianggap sebagai persoalan remeh bahkan harus diluruskan, karena menyangkut dan memengaruhi kehidupan generasi selanjutnya sebagai aktor sejarah berikutnya. Apalagi sejarah yang dimaksud adalah sejarah tentang ilmu pengetahuan yang merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, perlu adanya usaha yang sungguh-sungguh serta tanggung jawab moral dan akademik dalam pemaparan sejarah. Sebelum memaparkan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, penulis harus mengungkap sekilas tentang perbedaan antara pengetahuan dan ilmu agar tidak terjebak pada kesalahpahaman mengenai keduanya, sehingga pembaca bisa memahami dengan mudah dan benar apa yang dimaksud dengan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dalam makalah ini. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem, dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris. Sementara itu, pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai metafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, sedangkan ilmu sudah merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode dan mekanisme tertentu.[2]Jadi ilmu lebih khusus daripada pengetahuan, tetapi tidak berarti semua ilmu adalah pengetahuan. Uraian singkat di atas menggiring kita pada kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan di sini adalah ilmu bukan pengetahuan. Ilmu beraneka-ragam. Maskoeri Jasin membagi ilmu pengetahuan ke tiga kategori besar. Pertama, Ilmu Pengetahuan Sosial yang meliputi psikologi, pendidikan, antropologi, etnologi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi. Kedua, Ilmu Pengetahuan Alam yang meliputi fisika, kimia, dan biologi botani, zoologi, morfologi, anatomi, fisiologi, sitologi, histologi, dan palaentologi. Ketiga, Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa yang meliputi geologi petrologi, vulkanologi, dan mineralogi, astronomi, dan geografi fisiografi dan geografi biologi.[3]Karena luasnya cakupan ilmu, penulis hanya fokus pada sejarah perkembangan sebagian ilmu dari masa ke masa yang terekam oleh literatur-literatur sejarah yang ada dan menyebutkan sebagian tokoh di balik penemuan teori ilmu dan pengembangannya. Ilmu Pengetahuan Zaman Purba Secara garis besar, Amsal Bakhtiar membagi periodeisasi sejarah perkembangan ilmu pengetahuan menjadi empat periode pada zaman Yunani kuno, pada zaman Islam, pada zaman renaisans dan modern, dan pada zaman kontemporer.[4]Periodeisasi ini mengandung tiga kemungkinan. Pertama, menafikan adanya pengetahuan yang tersistem sebelum zaman Yunani kuno. Kedua, tidak adanya data historis tentang adanya ilmu sebelum zaman Yunani kuno yang sampai pada kita. Ketiga, Bakhtiar sengaja tidak mengungkapnya dalam bukunya. Jika kemungkinan pertama yang terjadi, maka informasi dari teks-teks agama tentang nama-nama yang Adam ketahui, misalnya, tidak termasuk ilmu tetapi hanya pengetahuan belaka. Jika kemungkinan kedua yang benar, maka bukan berarti pengetahuan yang tersistem hanya ditemukan dan dimulai pada zaman Yunani kuno, tetapi ia sudah ada sebelumnya hanya saja informasinya tidak sampai pada kita. Jika kemungkinan ketiga yang berlaku, maka penulis perlu mengungkapnya meski hanya sekilas karena keterbatasan referensi yang ada pada George J. Mouly, permulaan ilmu dapat disusur sampai pada permulaan manusia. Tak diragukan lagi bahwa manusia purba telah menemukan beberapa hubungan yang bersifat empiris yang memungkinkan mereka untuk mengerti keadaan dunia.[5]Masa manusia purba dikenal juga dengan masa pra-sejarah. Menurut Soetriono dan SDRm Rita Hanafie, masa sejarah dimulai kurang lebih sampai 600 tahun Sebelum Masehi. Pada masa ini pengetahuan manusia berkembang lebih maju. Mereka telah mengenal membaca, menulis, dan berhitung. Kebudayaan mereka pun mulai berkembang di berbagai tempat tertentu, yaitu Mesir di Afrika, Sumeria, Babilonia, Niniveh, dan Tiongkok di Asia, Maya dan Inca di Amerika Tengah. Mereka sudah bisa menghitung dan mengenal angka.[6]Meski agak berbeda dengan pendapat tersebut, Muhammad Husain Haekal 1888-1956 berpendapat lebih spesifik bahwa sumber peradaban sejak lebih dari enam ribu tahun yang lalu berarti sekitar 4000 SM adalah Mesir. Zaman sebelum itu dimasukkan orang ke dalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu, sukar sekali akan sampai kepada suatu penemuan yang ilmiah.[7] Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai permulaan zaman pra-sejarah dan zaman sejarah, dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu lahir seiring dengan adanya manusia di muka bumi hanya saja penamaan ilmu-ilmu itu biasanya muncul belakangan. Penekanan terhadap kegunaan dan aplikasi cenderung lebih diutamakan daripada penamaannya. Teori ini berlaku secara umum terhadap beberapa – untuk tidak dikatakan semua– disiplin ilmu dari generasi ke generasi. Berbekal otak, pengalaman, dan pengamatan terhadap gejala-gejala alam, manusia purba sudah barang tentu memiliki seperangkat pengetahuan yang dapat membantu mereka mengarungi kehidupan. Seperangkat pengetahuan tersebut semakin lama akan semakin tersusun rapi karena inilah karakteristik dasar ilmu. Jika kita menafikan adanya ilmu tertentu yang mereka miliki, maka kita akan sulit menjawab pertanyaan mungkinkah mereka bisa bertahan hidup bertahun-tahun tanpa bekal apapun?Selanjutnya Mouly menyebutkan bukti-bukti secara berurutan terhadap pernyataannya sebagai berikut Usaha mula-mula di bidang keilmuan yang tercatat dalam lembaran sejarah dilakukan oleh bangsa Mesir, di mana banjir sungai Nil yang terjadi tiap tahun ikut menyebabkan berkembangnya sistem almanak, geometri, dan kegiatan survei. Keberhasilan ini kemudian diikuti oleh bangsa Babilonia dan Hindu yang memberikan sumbangan-sumbangan yang berharga meskipun tidak seinsentif kegiatan bangsa Mesir. Setelah itu muncul bangsa Yunani yang menitikberatkan pada pengorganisasian ilmu di mana mereka bukan saja menyumbang perkembangan ilmu dengan astronomi, kedokteran, dan sistem klasifikasi Aristoteles, namun juga silogisme yang menjadi dasar bagi penjabaran secara deduktif pengalaman-pengalaman manusia.[8]Peradaban Mesir kuno, misalnya, mewariskan peninggalan-peninggalan bermutu tinggi seperti piramida, kuil, dan sistem penatanan kota. Peninggalan-peninggalan ini tidak mungkin ada tanpa adanya ilmu yang mereka miliki. Proses pembangunan piramida yang menjulang tinggi dan tersusun dari batu-batu besar pilihan tak bisa lepas dari matematika dan arsitektur. Begitu pula dengan proses pembangunan kuil megah mereka. Sementara itu, sistem penataan kota membutuhkan arsitektur dan administrasi pemerintahan. Dengan kata lain, peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut menunjukkan adanya ilmu-ilmu tertentu yang mereka miliki sehingga mereka bisa mewujudkan impian mereka menjadi kenyataan. Menurut Haekal, Mesir adalah pusat yang paling menonjol membawa peradaban pertama ke Yunani atau Rumawi.[9] Sementara itu, menurut Betrand Russell, pada masa Babilonia lahir beberapa hal yang tergolong ilmu pengetahuan pembagian hari menjadi dua puluh empat jam, lingkaran menjadi 360 derajat, penemuan siklus gerhana yang memungkinkan terjadinya gerhana bulan bisa diramal dengan tepat dan gerhana matahari dengan beberapa perkiraan. Pengetahuan bangsa Babilonia ini sampai ke tangan Thales[10], filosof Yunani. Ilmu Pengetahuan Zaman Yunani Kuno Yunani kuno sangat identik dengan filsafat. Ketika kata Yunani disebutkan, maka yang terbesit di pikiran para peminat kajian keilmuan bisa dipastikan adalah filsafat. Padahal filsafat dalam pengertian yang sederhana sudah ada jauh sebelum para filosof klasik Yunani menekuni dan mengembangkannya. Filsafat di tangan mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada generasi-generasi setelahnya. Ia ibarat pembuka pintu-pintu aneka ragam disiplin ilmu yang pengaruhnya terasa hingga sekarang. Sehingga wajar saja bila generasi-generasi setelahnya merasa berhutang budi padanya, termasuk juga umat Islam pada abad pertengahan masehi bahkan hingga sekarang. Tanpa mengkaji dan mengembangkan warisan filsafat Yunani rasanya sulit bagi umat Islam kala itu merengkuh zaman keemasannya. Begitu juga orang Barat tanpa mengkaji pengembangan filsafat Yunani yang dikembangkan oleh umat Islam rasanya sulit bagi mereka membangun kembali peradaban mereka yang pernah mengalami masa-masa kegelapan menjadi sangat maju dan mengungguli peradaban-peradaban besar lainnya seperti sekarang filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu ini terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Dari proses inilah kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat yang akhirnya kita nikmati dalam bentuk teknologi. Karena itu, periode perkembangan filsafat Yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia. Inilah titik awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti dan sekaligus mempertanyakan dirinya dan alam jagad raya.[11] Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal-usul alam adalah Thales 624-546 SM, setelah itu Anaximandros 610-540 SM, Heraklitos 540-480 SM, Parmenides 515-440 SM, dan Phytagoras 580-500. Thales, yang dijuluki bapak filsafat, berpendapat bahwa asal alam adalah air. Menurut Anaximandros substansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya yang dinamakan apeiron, bukan air atau tanah. Heraklitos melihat alam semesta selalu dalam keadaan berubah. Baginya yang mendasar dalam alam semesta adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya yaitu api. Bertolak belakang dengan Heraklitos, Parmenides berpendapat bahwa realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Phytagoras berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama alam dan sekaligus menjadi ukuran. Unsur-unsur bilangan itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Jasa Phytagoras sangat besar dalam pengembangan ilmu, terutama ilmu pasti dan ilmu alam. Ilmu yang dikembangkan kemudian hari sampai hari ini sangat bergantung pada pendekatan matematika.[12]Jadi setiap filosof mempunyai pandangan berbeda mengenai seluk beluk alam semesta. Perbedaan pandangan bukan selalu berarti negatif, tetapi justeru merupakan kekayaan khazanah keilmuan. Terbukti sebagian pandangan mereka mengilhami generasi mereka kemudian muncul beberapa filosof Sofis sebagai reaksi terhadap ketidakpuasan mereka terhadap jawaban dari para filosof alam dan mengalihkan penelitian mereka dari alam ke manusia. Bagi mereka, manusia adalah ukuran kebenaran sebagaimana diungkapkan oleh Protagoras 481-411 SM, tokoh utama mereka. Pandangan ini merupakan cikal bakal humanisme. Menurutnya, kebenaran bersifat subyektif dan relatif. Akibatnya, tidak akan ada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan dia tidak menganggap teori matematika mempunyai kebenaran absolut. Selain Protagoras ada Gorgias 483-375 SM. Menurutnya, penginderaan tidak dapat dipercaya. Ia adalah sumber ilusi. Akal juga tidak mampu meyakinkan kita tentang alam semesta karena akal kita telah diperdaya oleh dilema subyektifitas. Pengaruh positif gerakan kaum sofis cukup terasa karena mereka membangkitkan semangat berfilsafat. Mereka tidak memberikan jawaban final tentang etika, agama, dan metafisika.[13]Pandangan para filosof Sofis tersebut disanggah oleh para filosof setelahnya seperti Socrates 470-399 SM, Plato 429-347 SM, dan Aristoteles 384-322 SM. Menurut mereka, ada kebenaran obyektif yang bergantung kepada manusia. Socrates membuktikan adanya kebenaran obyektif itu dengan menggunakan metode yang bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Menurutnya, kebenaran universal dapat ditemukan. Bagi Plato, esensi mempunyai realitas yang ada di alam idea. Kebenaran umum ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam idea. Filsafat Yunani klasik mengalami puncaknya di tangan Aristoteles. Dia adalah filosof yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis logika, metafisika, dan fisika dan praktis etika, ekonomi, dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman bagi klasifikasi ilmu di kemudian hari. Dia dianggap sebagai bapak ilmu karena mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.[14]Karena demikian meresapnya serta lamanya pengaruh ajaran-ajaran Plato dan Aristoteles, Whitehead memberikan catatan bahwa segenap filsafat sesudah masa hidup keduanya sesungguhnya merupakan usulan-usulan belaka terhadap ajaran-ajaran mereka.[15]Pendapat Whitehead tidak seluruhnya benar karena umat Islam, misalnya, selain mengembangkan filsafat mereka, mereka juga melakukan inovasi di beberapa persoalan filsafat Yunani sehingga memiliki karakteristik Pengetahuan Zaman Islam KlasikIlmu-ilmu keislaman seperti tafsir, hadis, fiqih, usul fiqih,[16]dan teologi sudah berkembang sejak masa-masa awal Islam hingga sekarang. Khusus dalam bidang teologi, Muktazilah dianggap sebagai pembawa pemikiran-pemikiran rasional. Menurut Harun Nasution, pemikiran rasional berkembang pada zaman Islam klasik 650-1250 M. Pemikiran ini dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam al-Qur`an dan hadis. Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani melalui filsafat dan sains Yunani yang berada di kota-kota pusat peradaban Yunani di Dunia Islam Zaman Klasik, seperti Alexandria Mesir, Jundisyapur Irak, Antakia Syiria, dan Bactra Persia.[17] W. Montgomery Watt menambahkan lebih rinci bahwa ketika Irak, Syiria, dan Mesir diduduki oleh orang Arab pada abad ketujuh, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dikembangkan di berbagai pusat belajar. Terdapat sebuah sekolah terkenal di Alexandria, Mesir, tetapi kemudian dipindahkan pertama kali ke Syiria, dan kemudian –pada sekitar tahun 900 M– ke Baghdad. Kolese Kristen Nestorian di Jundisyapur, pusat belajar yang paling penting, melahirkan dokter-dokter istana HārÅn al-RashÄd dan penggantinya sepanjang sekitar seratus tahun. Akibat kontak semacam ini, para khalifah dan para pemimpin kaum Muslim lainnya menyadari apa yang harus dipelajari dari ilmu pengetahuan Yunani. Mereka mengagendakan agar menerjemahkan sejumlah buku penting dapat diterjemahkan. Beberapa terjemahan sudah mulai dikerjakan pada abad kedelapan. Penerjemahan secara serius baru dimulai pada masa pemerintahan al-Ma’mÅn 813-833 M. Dia mendirikan Bayt al-Ḥikmah, sebuah lembaga khusus penerjemahan. Sejak saat itu dan seterusnya, terdapat banjir penerjemahan besar-besaran. Penerjemahan terus berlangsung sepanjang abad kesembilan dan sebagian besar abad kesepuluh.[18] Buku-buku matematika dan astronomi adalah buku-buku yang pertama kali diterjemahkan. Al-KhawārizmÄ Algorismus atau Alghoarismus merupakan tokoh penting dalam bidang matematika dan astronomi. Istilah teknis algorisme diambil dari namanya. Dia memberi landasan untuk aljabar. Istilah “algebra” diambil dari judul karyanya. Karya-karyanya adalah rintisan pertama dalam bidang aritmatika yang menggunakan cara penulisan desimal seperti yang ada dewasa ini, yakni angka-angka Arab. Al-KhawārizmÄ dan para penerusnya menghasilkan metode-metode untuk menjalankan operasi-operasi matematika yang secara aritmatis mengandung berbagai kerumitan, misalnya mendapatkan akar kuadrat dari satu angka. Di antara ahli matematika yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin adalah al-NayrÄzÄ atau Anaritius w. 922 M dan Ibn al-Haytham atau Alhazen w. 1039 M. Ibn al-Haytham menentang teori Eucleides dan Ptolemeus yang menyatakan bahwa sinar visual memancar dari mata ke obyeknya, dan mempertahankan pandangan kebalikannya bahwa cahayalah yang memancar dari obyek ke mata.[19]Di bidang astronomi, al-BattānÄ Albategnius menghasilkan table-tabel astronomi yang luar biasa akuratnya pada sekitar tahun 900 M. Ketepatan observasi-observasinya tentang gerhana telah digunakan untuk tujuan-tujuan perbandingan sampai tahun 1749 M. Selain al-BattānÄ, ada Jābir ibn Aflaḥ Geber dan al-Biá¹­rÅjÄ Alpetragius. Jābir ibn Aflaḥ dikenal karena karyanya di bidang trigonometri sperik. Di bidang astronomi dan matematika, ada juga Maslamah al-MajrÄá¹­Ä w. 1007 M, Ibn al-Samḥ, dan Ibn al-á¹¢affār. Ibn AbÄ al-Rijāl Abenragel di bidang astrologi.[20] Dalam bidang kedokteran ada AbÅ Bakar Muḥammad ibn Zakariyyā al-RāzÄ atau Rhazes 250-313 H/864-925 M atau 320 H/932 M[21], Ibn SÄnā atau Avicenna w. 1037 M, Ibn Rushd atau Averroes 1126-1198 M, AbÅ al-Qāsim al-ZahrāwÄ Abulcasis, dan Ibn Ẓuhr atau Avenzoar w. 1161 M. Al-ḤāwÄ karya al-RāzÄ merupakan sebuah ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya. Untuk setiap penyakit dia menyertakan pandangan-pandangan dari para pengarang Yunani, Syiria, India, Persia, dan Arab, dan kemudian menambah catatan hasil observasi klinisnya sendiri dan menyatakan pendapat finalnya. Buku Canon of Medicine karya Ibnu SÄnā sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 M dan terus mendominasi pengajaran kedokteran di Eropa setidak-setidaknya sampai akhir abad ke-16 M dan seterusnya. Tulisan AbÅ al-Qāsim al-ZahrāwÄ tentang pembedahan operasi dan alat-alatnya merupakan sumbangan yang berharga dalam bidang kedokteran.[22]Dalam bidang kimia ada Jābir ibn Ḥayyān Geber dan al-BÄrÅnÄ 362-442 H/973-1050 M. Sebagian karya Jābir ibn Ḥayyān memaparkan metode-metode pengolahan berbagai zat kimia maupun metode pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejana-bejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal dari karya-karyanya. Sementara itu, al-BÄrÅnÄ mengukur sendiri gaya berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi.[23] Dalam bidang botani, zoologi, mineralogi, karya orang Arab mencakup gambaran dan daftar berbagai macam tanaman, binatang, dan batuan. Beberapa di antaranya memiliki kegunaan praktis, yakni ketika karya tersebut dihubungkan dengan bidang farmakologi dan perawatan medis.[24]Selain disiplin-disiplin ilmu di atas, sebagian umat Islam juga menekuni logika dan filsafat. Sebut saja al-KindÄ, al-FārābÄ w. 950 M, Ibn SÄnā atau Avicenna w. 1037 M, al-GhazālÄ w. 1111 M, Ibn Bājah atau Avempace w. 1138 M, Ibn Ṭufayl atau Abubacer w. 1185 M, dan Ibn Rushd atau Averroes w. 1198 M.[25]Menurut Felix Klein-Franke, al-KindÄ berjasa membuat filsafat dan ilmu Yunani dapat diakses dan membangun fondasi filsafat dalam Islam dari sumber-sumber yang jarang dan sulit, yang sebagian di antaranya kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh al-FārābÄ. Al-KindÄ sangat ingin memperkenalkan filsafat dan sains Yunani kepada sesama pemakai bahasa Arab, seperti yang sering dia tandaskan, dan menentang para teolog ortodoks yang menolak pengetahuan asing.[26]Menurut Betrand Russell, Ibn Rushd lebih terkenal dalam filsafat Kristen daripada filsafat Islam. Dalam filsafat Islam dia sudah berakhir, dalam filsafat Kristen dia baru lahir. Pengaruhnya di Eropa sangat besar, bukan hanya terhadap para skolastik, tetapi juga pada sebagian besar pemikir-pemikir bebas non-profesional, yang menentang keabadian dan disebut Averroists. Di Kalangan filosof profesional, para pengagumnya pertama-tama adalah dari kalangan Franciscan dan di Universitas Paris.[27]Rasionalisme Ibn Rushd inilah yang mengilhami orang Barat pada abad pertengahan dan mulai membangun kembali peradaban mereka yang sudah terpuruk berabad-abad lamanya yang terwujud dengan lahirnya zaman pencerahan atau Pengetahuan Zaman Renaisans dan Modern Michelet, sejarahwan terkenal, adalah orang pertama yang menggunakan istilah renaisans. Para sejarahwan biasanya menggunakan istilah ini untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Agak sulit menentukan garis batas yang jelas antara abad pertengahan, zaman renaisans, dan zaman modern. Bisa dikatakan abad pertengahan berakhir tatkala datangnya zaman renaisans. Sebagian orang menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan dari zaman renaisans. Renaisans adalah periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Ciri utama renaisans yaitu humanisme, individualisme, sekulerisme, empirisisme, dan rasionalisme. Sains berkembang karena semangat dan hasil empirisisme, sementara Kristen semakin ditinggalkan karena semangat humanisme.[28] Tokoh penemu di bidang sains pada masa renaisans abad 15-16 M Nicolaus Copernicus 1473-1543 M, Johanes Kepler 1571-1630 M, Galileo Galilei 1564-1643 M,[29]dan Francis Bacon 1561-1626 M. Copernicus menemukan teori heliosentrisme, yaitu matahari adalah pusat jagad raya, bukan bumi sebagaimana teori geosentrisme yang dikemukakan oleh Ptolomeus 127-151. Menurutnya, bumi memiliki dua macam gerak, yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teori ini melahirkan revolusi pemikiran tentang alam semesta, terutama astronomi.[30]Kepler adalah ahli astronomi Jerman yang terpengaruh ajaran Copernicus. Dialah yang menemukan bahwa orbit planet berbentuk elips; bahwa planet bergerak cepat bila berada di dekat matahari dan lambat bila jauh darinya. Galileo adalah ahli astronomi Italia yang melakukan pengamatan teleskopik dan mengukuhkan gagasan Copernicus bahwa tata surya berpusat pada matahari. Inkuisi takut akan penemuannya dan memaksanya meninggalkan studi astronominya. Dia juga berjasa dalam menetapkan hukum lintasan peluru, gerak, dan percepatan.[31]Dialah penemu planet Jupiter yang dikelilingi oleh empat buah bulan.[32] Selanjutnya tokoh penemu di bidang sains pada zaman modern abad 17-19 M Sir Isaac Newton 1643-1727 M, Leibniz 1646-1716 M, Joseph Black 1728-1799 M, Joseph Prestley 1733-1804 M, Antonie Laurent Lavoiser 1743-1794 M, dan Thompson. Newton adalah penemu teori gravitasi, perhitungan calculus, dan optika yang mendasari ilmu alam. Pada masa Newton, ilmu yang berkembang adalah matematika, fisika, dan astronomi. Pada periode selanjutnya ilmu kimia menjadi kajian yang amat menarik. Black adalah pelopor dalam pemeriksaan kualitatif dan penemu gas CO2. Prestley menemukan sembilan macam hawa No dan oksigen yang antara lain dapat dihasilkan oleh tanaman. Lavoiser adalah peletak dasar ilmu kimia sebagaimana kita kenal sekarang. Thompson menemukan elektron. Dengan penemuannya ini, maka runtuhlah anggapan bahwa atom adalah bahan terkecil dan mulailah ilmu baru dalam kerangka kimia-fisika yaitu fisika nuklir. Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan statistika, sementara pada abad ke-19 lahirlah pharmakologi, geofisika, geomophologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi.[33]Pada tahap selanjutnya, ilmu-ilmu zaman modern memengaruhi perkembangan ilmu zaman Pengetahuan Zaman Kontemporer Perbedaan antara zaman modern dengan zaman kontemporer yaitu zaman modern adalah era perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15, sedangkan zaman kontemporer adalah era perkembangan terakhir yang terjadi hingga sekarang. Perkembangan ilmu di zaman ini meliputi hampir seluruh bidang ilmu dan teknologi, ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, hukum, dan politik serta ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi serta aplikasi-aplikasinya di bidang teknologi rekayasa genetika, informasi, dan komunikasi. Zaman kontemporer identik dengan rekonstruksi, dekonstruksi, dan inovasi-inovasi teknologi di berbagai bidang.[34] Sasaran rekonstruksi dan dekonstruksi biasanya teori-teori ilmu sosial, eksakta, dan filsafat yang ada sudah ada sebelumnya, sementara inovasi-inovasi teknologi semakin hari semakin cepat seperti yang kita saksikan dan nikmati sekarang ini. Teknologi merupakan buah dari perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan dari generasi ke generasi. Komputer merupakan hasil pengembangan dari perkembangan listrik elektronika yang pada awal penemuannya oleh Faraday belum diketahui kegunaannya. Penemuan bola lampu oleh Edison disusul oleh penemuan radio, televisi, dan komputer.[35]Dari komputer berkembang ke PC private computer, lap top, dan terakhir simuter yaitu komputer jenis PDA personal digital assistans.[36]Semua contoh ini merupakan bukti bahwa penemuan teknologi sebagai buah perkembangan ilmu masih berkaitan dengan penemuan-penemuan sebelumnya yang kemudian dikembangkan dengan ukuran fisik yang semakin kecil, tetapi memiliki beragam keunggulan yang lebih besar. Salah satu hasil teknologi yang menakjubkan dan kontroversial adalah teknologi rekayasa genetika yang berupa teknologi kloning. Dr. Gurdon dari Universitas Cambridge adalah orang pertama yang melakukan teknologi ini pada tahun 1961. Gurdon berhasil memanipulasi telur-telur katak sehingga tumbuh menjadi kecebong kloning. Pada tahun 1993, Dr. Jerry Hall berhasil mengkloning embrio manusia dengan teknik pembelahan. Pada tahun 1997, Dr. Ian Wilmut berhasil melakukan kloning mamalia pertama dengan kelahiran domba yang diberi nama Dolly. Pada tahun yang sama lahir lembu kloning pertama yang diberi mana Gene. Pada tahun 1998, para peneliti di Universitas Hawai yang dipimpin oleh Dr. Teruhiko Wakayama berhasil melakukan kloning terhadap tikus hingga lebih dari lima generasi. Pada tahun 2000, Prof. Gerald Schatten berhasil membuat kera kloning yang diberi nama Tetra. Setelah berbagai keberhasilan teknik kloning yang pernah dilakukan, para ahli malah lebih berencana menerapkan teknik kloning pada manusia.[37]Setelah uraian-uraian di atas, selanjutnya kita lihat tabel klasifikasi perkembangan sebagian ilmu pengetahuan dari masa ke masa berdasarkan periodenya sebagai berikut[38] ILMU-ILMU 2000 SM-300 M 300 M-1400 M 1400 M-1600 M Abad ke-17 Abad ke-18 Abad ke-19 Abad ke-20 MATEMATIKA Ilmu HitungGeometriLogika Teori Bilangan AljabarGeometri AnalitikTrigonometri Probabilitas dan StatistikaPersamaan DiferensialKalkulusGeometri AnalistisTopologi Teori InformasiTeori FungsiGeometri Non-EuclidLogika Matematik FISIKA MekanikaOptika Termodinamika Keelektrikan dan Kemagnetan Kristalogi CryogenikMekanika StatistikaMekanika KwantumFisika PartikelFisika NuklirFisika PlasmaFisika AtomFisika MolekulFisika ZadatFisika Relativitas KIMIA Alkimia Kimia AroganikKimia Kedokteran Kimia Analistis PharmakologiBiokimiaKimia Organik Fisika KwantumKimia FisikaKimia NuklirKimia Polimer ASTRONOMI KosmologiAstronomi Posisionil Mekanika Benda Langit Astronomi Fisika AstronautikaRadio AstronomiAstrofisika GEOLOGI Eksplorasi GeodesiMineralogiMeteorologi GeofisikaStatigrafiSejarah GeologiPaleontologiMineralogiPetrologiGeormorphologiGeografi Fisika/Fisis Srtuktur GeologiGeokimiaHidrologiOceanografi BIOLOGI Ilmu Obat-obatan PhisiologiAnatomiBotani dan ZoologiEmbriologiPathologi Mikrobiologi Taksonomi BiofisikaAnatomi PerbandinganCitologiHistologiBiokimiaEkologi RadiobiologiBiologi MolekulGenetika SOSIAL PemerintahanSejarahFilsafat Politik Ekonomi ArkeologiAntropologi FisikSosiologi Antropologi BudayaPsikologi PenutupTabel di atas belum mencakup semua ilmu pengetahuan, karena menurut Jujun Suriasumantri, ilmu pengetahuan dewasa ini telah berkembang menjadi sekitar 650 cabang. Di samping sudah ada pemberdayaan antara ilmu-ilmu alam atau natural science dengan ilmu-ilmu sosial, dikenal pula dengan pembedaan ilmu dan ilmu terapan. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, menurut Chalmers, diperkirakan sejak 400 tahun yang lalu, yaitu sejak Copernicus, Galileo, Kepler, dan yang lebih jelas lagi sejak Francis Bacon pada abad ke-15 dan 16 sebagai ahli filsafat ilmu yang mengemukakan perlunya suatu metode dalam mempelajari pengalaman. Bacon menekankan bahwa eksperimen dan observasi yang intensif merupakan landasan perkembangan ilmu.[39]Fakta-fakta di atas menunukkan bahwa perkembangan ilmu tidak bisa dilepaskan dari rasa keingintahuan yang besar diiringi dengan usaha-usaha yang sungguh-sungguh melalui penalaran, percobaan, penyempurnaan, dan berani mengambil resiko tinggi sehingga menghasilkan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi suatu generasi dan menjadi acuan pertimbangan bagi generasi selanjutnya untuk mengoreksi, menyempurnakan, mengembangkan, dan menemukan penemuan selanjutnya. Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi pemacu bagi pesatnya perkembangan ilmu yang melatarbelakangi semakin cepatnya penemuan dalam bidang teknologi yang kadang membuat sebagian orang terlena karenanya sehingga tidak sadar bahwa sebagian ilmu yang disalahgunakan bisa menjadi ancaman serius bagi kehidupan penting yang perlu dicatat di sini adalah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan harus diimbangi dengan pengembangan moral-spiritual manusianya, karena sebagaimana kita tahu, perkembangan ilmu pengetahuan selain berdampak positif, ia juga berdampak negatif bagi kehidupan manusia. Dampak positifnya adalah semakin mempermudah kehidupan manusia, sementara dampak negatifnya adalah semakin mengancam kehidupan mereka. Oleh karena itu, agar tatanan kehidupan manusia di dunia ini tetap lestari, maka perkembangan ilmu mesti diiringi dengan pengembangan moral-spiritual manusia itu sendiri. Perkembangan ilmu tanpa pengembangan moral-spiritual bisa menjadi ancaman bagi kehidupan manusia seperti yang bisa kita rasakan akhir-akhir ini yang berupa penyalahgunaan teknologi nuklir. Demikian pula pengembangan moral-spiritual tanpa diiringi perkembangan ilmu bisa menjadikan sebagian manusia kurang kreatif seperti yang terjadi pada orang Kristen pada zaman kegelapan Eropa. Dengan kata lain, antara otak dan hati harus mendapatkan porsi perhatian yang seimbang. Sejarah sudah membuktikannya. Sejarah merupakan disiplin ilmu yang memiliki validitas kebenaran yang tinggi sehingga layak dijadikan bahan untuk mengambil pelajaran ibrah. [] BibliografiBakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Jakarta Rajawali Pers, Gordon. What Happened in History. Harmondswort Penguin Books Ltd, Goodman, “Muḥammad ibn Zakariyyā al-RāzÄ”, dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman. Bandung Mizan, Klein-Franke, “Al-KindÄ”, dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman. Bandung Mizan, Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta Litera AntarNusa, Maskoeri. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta RajaGrafindo Persada, J. Mouly, “Perkembangan Ilmu”, dalam Ilmu dalam Perspektif Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, ed. Jujun S. Suriasumantri. Jakarta Gramedia, Kattsoff, Louis. Pengantar Filsafat. Yogyakarta Tiara Wacana Yogya, 2004. Nasution, Harun. Islam Rasional. Bandung Mizan, Betrand. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga sekarang. Yogyakarta Pustaka Pelajar, dan SDRm Rita Hanafie. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta Andi Offset Yogya, Ahmad. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra. Bandung Remaja Rosdakarya, 2005. Watt, W. Montgomery. Islam dan Peradaban Dunia Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan. Jakarta Gramedia Pustaka Utama, 1997. [1]Gordon Childe, What Happened in History Harmondswort Penguin Books Ltd, 1975, 13. [2]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu Jakarta Rajawali Pers, 2010, 16-17. [3]Maskoeri Jasin, Ilmu Alamiah Dasar Jakarta RajaGrafindo Persada, 2003, 35-39. [4]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, 21-129. [5]George J. Mouly, “Perkembangan Ilmu”, dalam Ilmu dalam Perspektif Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, ed. Jujun S. Suriasumantri Jakarta Gramedia, 1991, 87. [6]Soetriono dan SDRm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi PenelitianYogyakarta Andi Offset Yogya, 2007, 117. [7]Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad Jakarta Litera AntarNusa, 1996, 1. [8]George J. Mouly, “Perkembangan Ilmu”, 87. [9]Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, 1. [10]Betrand Russell, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga sekarang Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2002, 6. [11]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, 21-23. [12]Ibid., 23-27. Lihat juga Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra Bandung Remaja Rosdakarya, 2005, 48-49. [13]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, 27-28. [15]Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat Yogyakarta Tiara Wacana Yogya, 2004, 257. [16]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, 43. [17]Harun Nasution, Islam Rasional Bandung Mizan, 1998, 7. [18]W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan Jakarta Gramedia Pustaka Utama, 1997, 44-45. [21]Pembahasan lebih detil tentang sosok, karya, dan pengaruh AbÅ Bakar Muḥammad ibn Zakariyyā al-RāzÄ bisa dibaca dalam Lenn E. Goodman, “Muḥammad ibn Zakariyyā al-RāzÄ”, dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman Bandung Mizan, 2003, 243-265. [22]W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, 52-56. [26]Felix Klein-Franke, “Al-KindÄ”, dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman Bandung Mizan, 2003, 209-210. [27]Betrand Russell, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga sekarang, 567. [28]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra, 125-126 dan Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, 49-50. [30]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, 51-52. [31]Maskoeri Jasin, Ilmu Alamiah Dasar, 58. [32]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, 55. [35]Maskoeri Jasin, Ilmu Alamiah Dasar, 202. [36]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, 79. [38]Henry Margenau dan David Bergamini, The Scientist New York Time Inc., 1964, 86-99, yang diolah oleh Jujun Suriasumatri, “Tentang Hakekat Ilmu Sebuah Pengantar Redaksi”, dalam Ilmu dalam Perspektif Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, ed. Jujun S. Suriasumantri Jakarta Gramedia, 1991, 14-15. [39]Soetriono dan SDRm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, 120.

perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan